Kebebasan sejati bukanlah melepas ikatan, tapi memilih ikatan yang benar. Ambillah yang jernih dan tinggalkan yang keruh. Choose the best, disregard the rest!!
Malam merambat pelan, langit berselimut wahyu. Nuzulul Qur’an, malam saat
cahaya turun, menerangi belantara hati manusia yang sering kali dikeruhkan
oleh debu dunia. Malam itu bukan sekadar peristiwa, tapi pijakan sejarah.
Sebuah ketukan keras di pintu kesadaran, bahwa manusia tak diciptakan
untuk sekadar hidup, tapi untuk memahami, mencari, dan menjadi.
Di sudut-sudut kampung, santri kembali dari perantauan ilmu. Ada yang
membawa serta cahaya dalam genggamannya, mengisi lorong-lorong waktu
dengan hafalan, tafsir, dan keterampilan yang bermanfaat. Mereka sadar
bahwa setiap detik adalah peluang, setiap kesempatan adalah ladang amal.
Hidup bagi mereka bukan sekadar rutinitas, melainkan sketsa yang terus
digores dengan warna ilmu dan adab.
Namun, ada juga yang seolah merasa terlepas dari rantai. Mereka mencicipi
"kemerdekaan" dalam definisi yang asing. Lepas dari aturan pondok, lepas
dari jadwal yang ketat, lepas dari adab yang dulu diagungkan. Media sosial
merenggut waktu, tongkrongan memanggil, game online membius. "Ini waktu
istirahat," katanya. "Ini saatnya menikmati kebebasan."
Tapi benarkah? Apakah kebebasan berarti kehilangan arah? Apakah merdeka
berarti membiarkan diri hanyut dalam arus yang tak menentu?
Ada yang lupa, bahwa kebebasan bukan sekadar hak, tapi tanggung jawab. Bahwa manusia bukan burung yang terbang tanpa tujuan, melainkan musafir yang harus tahu ke mana kakinya melangkah.
Kebebasan sejati bukanlah melepas ikatan, tapi memilih ikatan yang benar.
Seperti dalam peribahasa Arab:
خذ ما صفا ودع ما كدر (Khudz ma shofa' wadha' ma kadar) – Ambillah yang jernih dan
tinggalkan yang keruh. Choose the best, disregard the rest!!
Bayangkan hidup ini seperti lembar kerja di Excel. Setiap sel
adalah pilihan. Ada yang terisi dengan nilai-nilai yang bermakna, ada yang
kosong tanpa makna. Ada formula yang mengatur keseimbangan, ada data yang
bisa diolah menjadi kebijaksanaan. Santri yang bijak adalah mereka yang
mengisi "lembar kerja" hidupnya dengan ilmu, adab, dan manfaat. Bukan sekadar mengisi sel
dengan angka acak tanpa makna, atau lebih buruk lagi, membiarkan
error tanpa memperbaikinya.
Nuzulul Qur’an bukan hanya peringatan sejarah, ia adalah cermin bagi
zaman. Bahwa hidup ini perjalanan, bukan pelarian. Bahwa kebahagiaan
bukanlah kesenangan sesaat, tapi makna yang ditemukan dalam kebaikan.
Bahwa seorang santri bukanlah anak kecil yang harus dikawal aturan, tapi
seorang pemimpin yang sedang ditempa untuk masa depan.
Maka, wahai santri, jangan biarkan cahaya yang kau genggam redup di
tengah kebisingan dunia. Jika kau harus berselancar di media sosial,
jadilah suara yang menebar hikmah. Jika kau harus berkumpul dengan kawan,
jadikan diskusi sebagai sarana menambah ilmu. Jika kau ingin bermain,
pastikan permainan itu tidak membuatmu lupa jalan pulang.
Karena hidup bukan sekadar ada, tapi menjadi. Bukan sekadar menghirup
udara, tapi memberi makna. Seperti wahyu yang turun di malam Nuzulul
Qur’an, kita pun harus turun ke dunia ini sebagai cahaya. Dan cahaya, tak
pernah ragu untuk menerangi.
Selamat berlibur, anak-anaku!!!
#NuzululQuran #SantriPulang #KebebasanSejati #PendidikanIslam #InspirasiRamadan #MotivasiHidup #RefleksiDiri #NilaiKehidupan #AdabDanIlmu #HikmahKehidupan
0 komentar:
Posting Komentar